Tekhnis Pengambilan Gambar

Posted: June 30, 2007 in Video Production

Pembuatan film murah :
Yang penting kamera dulu, kalau perlu 2 kamera, baru pemain dan lokasi. Lampu minimalis, pakai yang murah yaitu sinar matahari, hati-hati dengan hard light dari matahari, lampu siap 1 saja, yang soft light. Sedikit lampu gambar lebih normal, lampu banyak karena lebih aman. Untuk ambil outdoor di hard light matahari pakai butterfly (kain 6×6) dari kain atau resin paper. Cobalah untuk scenario pengambilan gambar siang malam seimbang, untuk menurunkan cost terutama akomodasi. Daripada lighting dan sound kurang, mending common sense dulu.

Feature film :
2 kamera dan lighting (4 lampu).
Untuk lighting watt tergantung lensa dan ruangan yang sedang dipakai.
Watt besar menjadikan temperature cahaya konstan, tidak lebih flicker, minimal 2KW untuk 1 ruang (halogen 3200 kelvin)(ingat f number dan irish lampu).
Untuk lensa yang penting focus distance dan terang gelap cahaya, semakin tertutup ruang focus semakin dalam, cahaya lebih terang ruang tajam mengecil, makin gelap ruang focus makin lebar (depth of field). Lighting untuk kamera film lebih sukar dari kamera video. Hindari shot langit kalau tak mau ketahuan kapan pengambilan shot.
Temperatur cahaya makin malam makin biru. Pakai shadow crust kalau mau mengambil kesan malam (semua ditutupi kain hitam), back lighting juga dibuat hard.
Film hampir sama dengan fotografi, kesamaan di diafragma dan shutter, yang ada di film adalah shutter angle. Still foto juga berguna karena dipakai untuk promo dokumentasi dll.
Komposisi ; kamera video untuk close up hati-hati karena dipindah kelayar yang lebih lebar, view findernya kecil, jangan extreme close up, kamera jangan dipegang, tripod saja, movenya kelihatan kalau sdh dipindah kelayar yang lebih lebar. Kecuali kalau mau  mendramatisasi movement langkah (shake handheld).

180” rule dalam cinematography
Sangat tidak boleh arah pengambilan kamera bersilangan, karena akan menimbulkan disorientasi penonton, harus 180” (satu busur derajat), walaupun  ada Over Shoulder tapi tetap 180” rule dipakai.
Kalau mau ambil slo speed ? lebih baik dihindari (kamera Panasonic Varicam yang punya 60fps).
Untuk standard Broadcast pakai DV (diluar dianggap Videophone & Amatir Video), Sony BFW PPW = VPW transit, signal turun, apalagi edit s/d 3X, kalau digital nggak ada losting ratio, cuma perlu dikalibrasi.
Untuk film pendek selalu tentukan dulu ending, cara paling mudah untuk mencari opening.
Proses kreatif dimulai dengan What if? (How ‘bout?).
Contoh visualisasi frustasi adalah dengan hujan-hujan. Tugas sutradara adalah untuk mencari visualisasi (bahasa gambar, bukan dialog).

Art
Art untuk film adalah personal preferences dari tiap sutradara. Walaupun semua film adalah Producer’s cut kecuali yang bertuliskan Director’s cut. Harus tahu apa maksud penulis scenario dulu (banyak berdiskusi), imagenya apa, akibatnya apa, fieldnya apa, dan yang terpenting adalah fieldnya apa/ basis yang mudah dipelajari adalah dari music video director, karena pengambilan sangat dinamis, juga belum ada field yang pakem, yang terpenting kedua adalah Rasa. Untuk penunjukan lokasi ambil establish shot walaupun sebentar. Berikan informasi segera, kecuali sesuatu yang memang disamarkan. Yang paling mudah :
1. Intro (film tentang apa?)
2. Problem (pengembangan konflik)
3. Problem solving

Mudah secara visual juga secara narasi. Rule 180” bisa diakali, contoh Matrix, tanpa penonton disorientasi. Yang paling sulit untuk art adalah munculnya orang baru ditengah film. Yang penting untuk handycam : krn handycam lebih brightness dari kamera lain maka harus disetel ke progressive mode, jangan ke immense, agar tampilan jadi lebih mirip kekamera film, lebih soft.
Untuk Art, cerita harus menarik, film berbeda dengan televisi :
Film (FTV) selalu tentang satu hal (orang, plot)
Sinetron selalu tentang banyak hal (orang, plot)
Walau sinetron multi plot tetapi tetap ada major plot. Untuk film ada Ensemble cast yaitu pemain banyak tapi mengarah ke satu plot, contohnya cinta, tapi banyak sutradara yang tidak berani mencoba Ensemble cast.
Proses dalam alur film :
1. Proses inductive: jarang dipakai karena kemungkinan besar tidak laku, karena flow cerita berdasarkan maunya pemeran utama (biography). Yang sukses adalah Forest Gump.
2. Proses Deductive : Pertama mencari tahu dulu, kemudian approach dengan stimulus.Hampir semua film memakai cara ini.
Jawaban mudah untuk kuliah di perfilman tanpa masuk ke fakultas film adalah tonton film sebanyak mungkin tanpa memilih film dan tonton bahasa gambarnya, jangan ceritanya. Pertanyaannya adalah tentang apa dan kenapa visualnya begitu?
Summary untuk shot :
1. Jangan close up terlalu banyak dan lama.
2. Jangan pegang handycam, pakailah tripod.
3. Jangan sekalipun nge Zoom, karena zoom identik dengan documenter televisi. Coba fast zooming, maka hasilnya tidak akan applicable. Dalam Art of cinematography Zoom tidak ada definisinya. Bisa zoom in tapi track out, contohnya film horror, angle view mengecil tapi field melebar. Bisa dipakai  untuk menunjukkan kondisi ekstrim, contoh mata buta atau linangan air mata. Jangan ngezoom, mending cut lalu CU. Lebih baik kamera yang maju, zoom angle view mengecil (hukum CU : kamera diletakkan sejangkauan tangan, karena orang selalu menepis secara reflek apa yang mendekati mukanya, kecuali intimate move yaitu mau kiss).

Lighting :
Jangan pakai hi lighting contrast, kalau bisa low contrast, matahari disiasati dengan kertas kalkir/ resin paper biar soft. Kalau perlu pantulkan dulu baru dipakai (kalau mau efek dijalan baru di opo sehwash out).
Untuk handycam tread pertama adalah lighting, reflector paling bagus adalah Styrofoam karena tidak menambah kelvin, silver paper akan menurunkan kelvin. Untuk handycam dalam ruangan paling bagus pakai satu lampu yang 800 s/d 2KW. Tembak ke ceiling baru di bounce. Wide shower nggak masalah. Baru setelah CU ada shadow tapi bisa dipakai Styrofoam. Lampu kino flow ada 2 yaitu 3200 kelvin dan 5500 kelvin. Kalau neon dan mercuri mengeluarkan efek magenta (agak merah) kalau perlu buat script light characteristic. Iklan banyak yang memakai hi light. Karena harus ada penekanan pada adegan. Neon rumah lebih kearah green sedang mercuri merah (HMI/HMD untuk film) tapi kalor mencukupi. Ingat temperature cahaya juga sangat mempengaruhi membalans apa yang warna putih, harus color baru kelihatan. ALL equipment added color. Maka untuk ke computer dikalibrasi dulu.
Efek light dimalam hari : lampu haris diletakkan ketempat yang sangat tinggi dan smoke gun dipakai tipis. Karena makin tinggi titik cahaya makin hilang. Lensa juga berpengaruh untuk paste. Pakai lensa yang wide (80mm-150mm), karena efek lensa wide dekat semakin dekat, jauh semakin jauh.
Untuk tips slo mo atau penegasan perlu diulang-ulang atau dengan pengambilan beberapa shot dengan trick 30” lalu di edit.
Untuk make up alas bedak harus minimal 5X baru dirias biar lebih soft dan tidak kelihatan tebal.

Untuk ruang juga lebih baik di smoke gun agar low lightnya kelihatan.
Kenapa harus Blue screen karena warna blue adalah satu-satunya warna yang berada dibawah garis, QC pada vector scope, lainnya diatas semua (memakai blue screen removal). Tapi sekarang setelah era digital berubah menjadi Green screen karena warna light green lebih mudah dihapus.
Hi contrast > bandwith kecil
Lo contrast > bandwith besar
Standard broadcast Indonesia memakai Betacam SP Analog dengan standard transfer untuk durasi 30” (24”).

Selalu ingat punch ending untuk film pendek, sampaikan informasi secepatnya.
Hati-hati jika ada satu ide selalu diekspos, maka penonton menjadi resisten.
Paling bebas adalah music video director karena mempunyai art form tersendiri. Pendekatan music video lebih kepada bagaimana membangun suasana.
Untuk editing, yang mendamping adalah producer, semua harus belajar (dissolve) :
1. Menyambung gambar lebih smooth
2. Compression technology, lebih ke offline dan online.

Fungsi sinetron diperpanjang karena agar penonton yang sudah menonton bisa cerita kepenonton yang lain akan alur cerita yang sudah mulai, maka pengambilan shot sampai detail. Dan juga terjadi conspiracy theory.
Kamera murah terbaik karena contrast ratio s/d 250% adalah Panasonic DVX.
Sound > coba dapetin silent untuk ambience (harus ext mic) kemudian dari ambience ruang itu dimultitrack > tambah NR.

Sinopsis dari Jose Purnomo (Jaelangkung)

Comments
  1. herisiapa says:

    wah susah banget… aku cuma punya handycam sm camera digital.
    ada solusi bwt ini?

    • cecepswp says:

      Ngga’ masalah walau punya alat cuma handycam ato digital camera, silakan bereksperimen sendiri dilapangan untuk mendapatkan hasil maksimal dengan peralatan minimal. Jangan terlalu kaku berpatokan pada teori….itu pengalaman saya selama ini jika ada keterbatasan dengan dana dan peralatan😀

  2. webee88 says:

    mantabss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s